All About Ted's 6th Senses - 3. Nadine dan Bonekanya

1.24.2015

print this page
send email
“hah dasar lemah” umpat Dwi yang memblock pesan dari entah siapa. Memang hilang untuk beberapa menit, tetapi muncul lagi dengan kata yang lain. “seharusnya kau mati, kau hanya menghalangiku” kata orang misterius itu.

***

Pagi itu aku hendak berangkat sekolah, tetapi aku melihat banyak sekali mobil pemadam kebakaran melaju cepat ke arah sekolah ku. “Ted, sini deh” panggil paman dari dalam saat aku hendak memakai sepatu, lalu aku lepas kembali. Bukankah itu sekolahmu? Katanya diakibatkan konsleting listrik” kata paman menunjuk tv dan menjelaskan. “ted, ikut paman kebelakang” kata paman lalu pergi ke halaman belakang rumah.

Aku berjalan sambil memikirkan bagaimana nasib sekolahku yang hanya tersisa setengah semester lagi ini.
“ada yang harus paman katakan” paman bicara sangat serius
“iya paman katakan”
Sekarang kemampuan itu sudah ada dalam dirimu, tetapi kau harus berlatih untuk menggunakannya.” Kata paman menjelaskan sangat serius, dan aku sangat kaget mendengar hal itu.

“Kekuatan? Apa maksudmu paman?” kataku yang heran.
“Kau cari tahu dulu sendiri. Sudahlah paman mau berangkat ke kantor dulu” lalu paman pergi dengan sepeda motornya.
Aku masih bingung dengan perkataan paman, ditambah sekolahku yang terbakar. Untungnya semua gambarku sudah ada ditangan Dwi. Akhirnya aku memutuskan untuk kerumah Dwi untuk kembali memastikan siapa orang yang menerorku itu.

***

Dwi memang tinggal sendiri, tak heran aku mengetuk pintu tetapi tidak ada yang membukakan. Lalu aku masuk saja kerumahnya, sekilas rumah Dwi terlalu besar untuk satu orang. Disebrang jalan terlihat beberapa pemadam kebakaran yang sedang memadamkan api, warga pun ikut membantu. Hawa panas sampai ke gerbang rumah Dwi.

Alangkah kagetnya aku saat menemukan Dwi tergeletak begitu saja didalam kamarnya, masih dalam posisi duduk di depan komputer sambil memegangi handphone nya. Aku tahu dia sudah meninggal. Karena aku tidak mau disalahkan, aku bergegas pergi sambil mengambil kembali gambar-gambarku.

“KRIINNGG!!” suara handphone dwi yang lumayan keras. “Bawa handphone ku bersamamu.” Sebuah kalimat yang tertulis dengan jelas dilayar handphone Dwi. Aku mengambilnya dan bergegas Dwi. Tak lupa aku berterima kasih karena kemarin telah membantuku.

***

Aku hendak berjalan pulang dengan menyusuri gang, mengambil jalan memutar. Karena memang jalan biasa kerumahku terlalu ramai, takutnya mencurigakan. “kemarilah, ikuti aku” kata seorang hantu perempuan yang kemarin. Akupun mengikutinya hingga sampai di salah satu rumah yang lumayan besar.

“ayo masuk” katanya.
“Hai ted, selamat datang di istana kecilku” Sapa Nadine sambil membukakan pintu dengan senyuman. “Jadi kau?” “kau yang membunuh Dwi?” Kataku terpotong potong.
“Membunuh? Kau ini gila?” jawab Nadine lantang. Mukanya berubah menjadi serius sekarang.
“Lalu kenapa Dwi tewas?” tanyaku
“Masuklah dulu, nanti aku jelaskan semuanya” kata Nadine yang lalu berjalan masuk kerumahnya, aku hanya mengikutinya dari belakang. “ini pertama kalinya aku memasuki rumah seorang perempuan” kataku dengan pelan namun tetap terdengar.

“Duduklah, aku dan kakak akan membuatkan minum” kata Nadne dengan suara yang berbeda. “Hei, suara siapa itu?” tanyaku heran.
“Aku Luna, boneka milik Nadine” kata boneka itu berbicara. Kupandangi boneka itu, dia sungguh menarik, dengan mata bulat besar berwarna hitam dan hidung khas boneka beruang berwarna hitam mengkilap. Ada yang aneh pada boneka itu, seingatku disekolah dia berwarna kuning, namun disini dia berwarna hijau, aneh.

Aku duduk di sofa itu sambil melihat-lihat beberapa foto Nadine saat kecil dan ayahnya. Tetapi aku tidak melihat sosok seorang ibu disana.

“Hasil gambarmu menarik ya, mirip dengan punya kak nadine” kata hantu itu sambil tersenyum lalu pergi entah kemana.

“Sudah lama nak? Aku yang mengundangmu untuk datang kemari” kata seorang lelaki yang baru saja masuk dari pintu depan. “Tunggu sebentar” katanya melanjutkan lalu pergi ke kamarnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back To Top