“hah dasar lemah” umpat Dwi yang
memblock pesan dari entah siapa. Memang hilang untuk beberapa menit, tetapi
muncul lagi dengan kata yang lain. “seharusnya kau mati, kau hanya
menghalangiku” kata orang misterius itu.
***
Pagi itu aku hendak berangkat sekolah,
tetapi aku melihat banyak sekali mobil pemadam kebakaran melaju cepat ke arah
sekolah ku. “Ted, sini deh” panggil paman dari dalam saat aku hendak memakai
sepatu, lalu aku lepas kembali. “Bukankah
itu sekolahmu? Katanya diakibatkan konsleting listrik” kata paman menunjuk tv
dan menjelaskan. “ted, ikut paman kebelakang” kata paman lalu pergi ke halaman
belakang rumah.
Aku berjalan sambil memikirkan bagaimana nasib
sekolahku yang hanya tersisa setengah semester lagi ini.
“ada yang harus paman katakan”
paman bicara sangat serius
“iya paman katakan”
“Sekarang kemampuan itu sudah ada dalam dirimu,
tetapi kau harus berlatih untuk menggunakannya.” Kata paman menjelaskan
sangat serius, dan aku sangat kaget mendengar hal itu.
“Kekuatan? Apa maksudmu paman?” kataku yang
heran.
“Kau cari tahu dulu sendiri. Sudahlah paman mau
berangkat ke kantor dulu” lalu paman pergi dengan sepeda motornya.
Aku masih bingung dengan perkataan paman,
ditambah sekolahku yang terbakar. Untungnya semua gambarku sudah ada ditangan
Dwi. Akhirnya aku memutuskan untuk kerumah Dwi untuk kembali memastikan siapa
orang yang menerorku itu.
***
Dwi memang tinggal sendiri, tak heran aku
mengetuk pintu tetapi tidak ada yang membukakan. Lalu aku masuk saja kerumahnya, sekilas rumah
Dwi terlalu besar untuk satu orang. Disebrang jalan terlihat beberapa pemadam
kebakaran yang sedang memadamkan api, warga pun ikut membantu. Hawa panas
sampai ke gerbang rumah Dwi.
Alangkah kagetnya aku saat menemukan Dwi
tergeletak begitu saja didalam kamarnya, masih dalam posisi duduk di depan
komputer sambil memegangi handphone nya. Aku tahu dia sudah meninggal. Karena
aku tidak mau disalahkan, aku bergegas pergi sambil mengambil kembali
gambar-gambarku.
“KRIINNGG!!” suara handphone dwi yang lumayan
keras. “Bawa handphone ku bersamamu.” Sebuah kalimat yang tertulis dengan jelas
dilayar handphone Dwi. Aku mengambilnya dan bergegas Dwi. Tak lupa aku
berterima kasih karena kemarin telah membantuku.
***
Aku hendak berjalan pulang dengan menyusuri
gang, mengambil jalan memutar. Karena memang jalan biasa kerumahku terlalu
ramai, takutnya mencurigakan. “kemarilah, ikuti aku” kata seorang hantu
perempuan yang kemarin. Akupun mengikutinya hingga sampai di salah satu rumah
yang lumayan besar.
“ayo masuk” katanya.
“Hai ted, selamat datang di istana kecilku”
Sapa Nadine sambil membukakan pintu dengan senyuman. “Jadi kau?” “kau yang
membunuh Dwi?” Kataku terpotong potong.
“Membunuh? Kau ini gila?” jawab Nadine lantang.
Mukanya berubah menjadi serius sekarang.
“Lalu kenapa Dwi tewas?” tanyaku
“Masuklah dulu, nanti aku jelaskan semuanya”
kata Nadine yang lalu berjalan masuk kerumahnya, aku hanya mengikutinya dari
belakang. “ini pertama kalinya aku memasuki rumah seorang perempuan” kataku
dengan pelan namun tetap terdengar.
“Duduklah, aku dan kakak akan membuatkan minum”
kata Nadne dengan suara yang berbeda. “Hei, suara siapa itu?” tanyaku heran.
“Aku Luna, boneka milik Nadine” kata boneka itu
berbicara. Kupandangi boneka itu, dia sungguh menarik, dengan mata bulat besar
berwarna hitam dan hidung khas boneka beruang berwarna hitam mengkilap. Ada
yang aneh pada boneka itu, seingatku disekolah dia berwarna kuning, namun disini
dia berwarna hijau, aneh.
Aku duduk di sofa itu sambil melihat-lihat
beberapa foto Nadine saat kecil dan ayahnya. Tetapi aku tidak melihat sosok
seorang ibu disana.
“Hasil gambarmu menarik ya, mirip dengan punya kak nadine” kata hantu itu sambil tersenyum lalu pergi entah kemana.
“Sudah lama nak? Aku yang mengundangmu untuk
datang kemari” kata seorang lelaki yang baru saja masuk dari pintu depan.
“Tunggu sebentar” katanya melanjutkan lalu pergi ke kamarnya.



0 komentar:
Posting Komentar