All About Ted's 6th Senses - 2. Terungkap

1.23.2015

print this page
send email
Akupun yang bingung dengan pesan ini langsung panik. Bagaimana jika perempuan itu memang benar-benar tidak terima jika gambar itu aku buat, itu yang ada di pikiranku saat ini. Tetapi aku ingat satu hal, Dwi. Segera aku hubungi dia lewat facebook, namun tidak berhasil, dia Offline. Mungkin dia sedang menuju sekolah dan sedang mencari beberapa lembar gambarku. “Aku akan simpan pesan ini” ucapku dalam hati. Karena panik, akhirnya aku bergegas pergi ke sekolah, dengan meminjam sepeda motor milik paman.
***

“DWI!!” aku berteriak memanggilnya dari gerbang sekolah. Dia terlihat sedang melihat-lihat gambarku itu. “eh ted, keren gambarnya” jawab Dwi dari kejauhan sambil mengangkat gambar-gambarku itu, lalu dia menghampiriku dengan berlari kecil.

Akupun menceritakan tentang pesan itu dan dwi sedikit senyum bahagia entah kenapa. “Dwi, jika kau memang menginginkan gambar itu, bantu aku ya, cari tahu siapa yang mengirimi ku pesan tersebut” kataku dengan sedikit panik. Lalu Dwi hanya menganggukan kepala dan tersenyum lebar “Job baru, gampang pula” kata dwi dengan santai.
***

Dirumah Dwi
“Ayo masuk Ted, langsung naik saja ke kamarku diatas, aku mau ambil beberapa makanan dulu” katanya sambil bergegas ke dapur. Aku memasuki kamar Dwi dan wah, aku melihat 1unit Cpu dengan 3 monitor yang tersambung semuanya. Lengkap dengan keyboard dan mouse yang berlogo sama, “Pasti mahal” umpatku dalam hati. Aku melihat-lihat beberapa koleksi Action Figure dwi yang belakangan kutahu itu harganya cukup untuk makan 3 bulan per 1 karakter. “duduk ted, santai aja, aku ga akan aneh-aneh kok, aku masih suka perempuan hehe” kata Dwi sambil tertawa lalu menyimpan beberapa biscuit disamping mouse nya. Akupun mengikuti dia yang sedang menyalakan komputer itu.

“Coba kasih gambaran, seperti apa akun facebook yang mengirimimu pesan tadi” kata dwi sambil memakan sepotong biscuitnya. “aku save screenshot, tapi ada di rumah, gimana ya?” kataku sedikit kesal karena tadi tergesa-gesa. Lalu Dwi hanya tersenyum dan kembali kepada layar komputernya itu. “Di folder apa?” tanya dwi sambil tetap fokus ke layar. “Desktop”. Aku menjawab seadanya. “yang ini? Wah lumayan juga akunnya” katanya sambil melihat screenshotku. Entah bagaimana dia bisa mendapatkannya, dia sungguh hebat. Lalu dia terus mencari siapa sebenarnya orang ini.

Karena dia sibuk, aku melihat lihat lagi sekitar kamar Dwi ini, sekilas bagian dekat kasurnya berantakan dengan jendela yang dibiarkan terbuka. “Dwi, jendela tutup ya, anginnya lumayan kencang” kataku sambil berjalan menuju jendela itu. Selesai ku tutup jendela itu dan hendak berbalik. Tetapi alangkah kagetnya saat aku melihat ada sosok perempuan yang sama seperti di kelas tadi sedang duduk di atas meja sambil tersenyum kepadaku.

Aku pun melamun dan bergumam sendiri, antara ketakutan dan terpesona karena perempuan itu sangat cantik. “Nih ketemu” katanya membuyarkan lamunanku. Perempuan itu berjalan-jalan di sekitar kamar Dwi, dan berhenti saat melihat tumpukan gambarku di meja komputer bagian ujung kanan. “siapa dia?” tanyaku kepada Dwi sambil mengalihkan perhatianku dari perempuan itu. “disini sih namanya Nadine, perempuan ted, cantik lagi” kata Dwi sambil tetap fokus ke layar. “eh bentar, kaya pernah liat” sambungnya dengan mengerutkan dahi.

Aku tahu siapa nadine ini, dia adalah perempuan kelas sebelah yang penyendiri  dan selalu membawa boneka beruang. Dia sangat misterius namun tetap cantik dan tidak sebodoh aku dalam pelajaran.

“Nadine?” kataku bertanya kepada Dwi. Perempuan tadi langsung berkata “tuan” dengan lembut dan hanya dapat didengar olehku. “di kelas 12-Ipa4 ada yang namanya nadine, dia yang selalu membawa boneka beruang itu” kataku menjelaskan tentang nadine. “tuan pika” kata perempuan itu lagi. “tuh liat, akun misterius tadi Cuma berteman sama Nadine aja kok, jadi gampang diselidiki” katanya sambil menghela nafas dan kembali memakan biscuit tadi. Lalu perempuan tadi pergi menembus pintu kamar Dwi dan menghilang entah kemana. “gimana selesai kan?” kata dwi sambil mengunyah biscuit nya. “okedeh, tapi kenapa ya namanya blank(baca:tidak terlihat) gitu?” kataku menjawabnya. “oh itu mungkin karena kesalahan aja, aslinya nama akunnya itu pakai bahasa jepang” jawabnya enteng. Lalu aku pamit pulang dan berterima kasih kepada si Dwi ini. “legaa” kataku dalam hati.
***

Sampai dirumah, aku langsung membuka facebook dan melihat ada pesan masuk dari akun misterius itu, “simpan saja gambar-gambarmu, simpan bukan hilangkan” isi pesan singkat tersebut. Aku merasa aneh kembali, tapi karena tahu itu hanyalah Nadine, aku tidak terlalu terbebani.
***

Dwi

Terlihat Dwi sedang asyik memainkan salah satu game terkenal di komputernya. Waktu menunjukan jam 21:00 tepat. Tiba-tiba muncul beberapa kata berwarna merah di layar komputer Dwi yang isinya “aku tidak takut padamu, jangan sombong”. Ia lalu menghilangkan kata-kata itu dengan mudah dan melanjutkan bermain game nya. “Terror seperti itu? Terlalu biasa buatku” katanya sambil sedikit tertawa sambil terus bermain game. Tiba tiba listrik mati begitu saja. Kamar menjadi gelap. Layar handphone Dwi menyala merah dan ada beberapa kata di situ. “Bagaimana? Jangan macam-macam padaku, aku memang lemah tetapi aku tidak bodoh!” 

0 komentar:

Posting Komentar

 
Back To Top