Akupun yang bingung dengan pesan ini langsung panik.
Bagaimana jika perempuan itu memang benar-benar tidak terima jika gambar itu
aku buat, itu yang ada di pikiranku saat ini. Tetapi aku ingat satu hal, Dwi.
Segera aku hubungi dia lewat facebook, namun tidak berhasil, dia Offline.
Mungkin dia sedang menuju sekolah dan sedang mencari beberapa lembar gambarku.
“Aku akan simpan pesan ini” ucapku dalam hati. Karena panik, akhirnya aku
bergegas pergi ke sekolah, dengan meminjam sepeda motor milik paman.
***
“DWI!!” aku berteriak memanggilnya dari gerbang sekolah. Dia
terlihat sedang melihat-lihat gambarku itu. “eh ted, keren gambarnya” jawab Dwi
dari kejauhan sambil mengangkat gambar-gambarku itu, lalu dia menghampiriku
dengan berlari kecil.
Akupun menceritakan tentang pesan itu dan dwi sedikit senyum
bahagia entah kenapa. “Dwi, jika kau memang menginginkan gambar itu, bantu aku
ya, cari tahu siapa yang mengirimi ku pesan tersebut” kataku dengan sedikit
panik. Lalu Dwi hanya menganggukan kepala dan tersenyum lebar “Job baru,
gampang pula” kata dwi dengan santai.
***
Dirumah Dwi
“Ayo masuk Ted, langsung naik saja ke kamarku diatas, aku
mau ambil beberapa makanan dulu” katanya sambil bergegas ke dapur. Aku memasuki
kamar Dwi dan wah, aku melihat 1unit Cpu dengan 3 monitor yang tersambung
semuanya. Lengkap dengan keyboard dan mouse yang berlogo sama, “Pasti mahal”
umpatku dalam hati. Aku melihat-lihat beberapa koleksi Action Figure dwi yang
belakangan kutahu itu harganya cukup untuk makan 3 bulan per 1 karakter. “duduk
ted, santai aja, aku ga akan aneh-aneh kok, aku masih suka perempuan hehe” kata
Dwi sambil tertawa lalu menyimpan beberapa biscuit disamping mouse nya. Akupun
mengikuti dia yang sedang menyalakan komputer itu.
“Coba kasih gambaran, seperti apa akun facebook yang
mengirimimu pesan tadi” kata dwi sambil memakan sepotong biscuitnya. “aku save
screenshot, tapi ada di rumah, gimana ya?” kataku sedikit kesal karena tadi
tergesa-gesa. Lalu Dwi hanya tersenyum dan kembali kepada layar komputernya
itu. “Di folder apa?” tanya dwi sambil tetap fokus ke layar. “Desktop”. Aku
menjawab seadanya. “yang ini? Wah lumayan juga akunnya” katanya sambil melihat
screenshotku. Entah bagaimana dia bisa mendapatkannya, dia sungguh hebat. Lalu
dia terus mencari siapa sebenarnya orang ini.
Karena dia sibuk, aku melihat lihat lagi sekitar kamar Dwi
ini, sekilas bagian dekat kasurnya berantakan dengan jendela yang dibiarkan
terbuka. “Dwi, jendela tutup ya, anginnya lumayan kencang” kataku sambil
berjalan menuju jendela itu. Selesai ku tutup jendela itu dan hendak berbalik.
Tetapi alangkah kagetnya saat aku melihat ada sosok perempuan yang sama seperti
di kelas tadi sedang duduk di atas meja sambil tersenyum kepadaku.
Aku pun melamun dan bergumam sendiri, antara ketakutan dan
terpesona karena perempuan itu sangat cantik. “Nih ketemu” katanya membuyarkan
lamunanku. Perempuan itu berjalan-jalan di sekitar kamar Dwi, dan berhenti saat
melihat tumpukan gambarku di meja komputer bagian ujung kanan. “siapa dia?”
tanyaku kepada Dwi sambil mengalihkan perhatianku dari perempuan itu. “disini
sih namanya Nadine, perempuan ted, cantik lagi” kata Dwi sambil tetap fokus ke
layar. “eh bentar, kaya pernah liat” sambungnya dengan mengerutkan dahi.
Aku tahu siapa nadine ini, dia adalah perempuan kelas
sebelah yang penyendiri dan selalu
membawa boneka beruang. Dia sangat misterius namun tetap cantik dan tidak
sebodoh aku dalam pelajaran.
“Nadine?” kataku bertanya kepada Dwi. Perempuan tadi
langsung berkata “tuan” dengan lembut dan hanya dapat didengar olehku. “di
kelas 12-Ipa4 ada yang namanya nadine, dia yang selalu membawa boneka beruang
itu” kataku menjelaskan tentang nadine. “tuan pika” kata perempuan itu lagi.
“tuh liat, akun misterius tadi Cuma berteman sama Nadine aja kok, jadi gampang
diselidiki” katanya sambil menghela nafas dan kembali memakan biscuit tadi.
Lalu perempuan tadi pergi menembus pintu kamar Dwi dan menghilang entah kemana.
“gimana selesai kan?” kata dwi sambil mengunyah biscuit nya. “okedeh, tapi
kenapa ya namanya blank(baca:tidak terlihat) gitu?” kataku menjawabnya. “oh itu
mungkin karena kesalahan aja, aslinya nama akunnya itu pakai bahasa jepang”
jawabnya enteng. Lalu aku pamit pulang dan berterima kasih kepada si Dwi ini.
“legaa” kataku dalam hati.
***
Sampai dirumah, aku langsung membuka facebook dan melihat ada pesan
masuk dari akun misterius itu, “simpan saja gambar-gambarmu, simpan bukan
hilangkan” isi pesan singkat tersebut. Aku merasa aneh kembali, tapi karena
tahu itu hanyalah Nadine, aku tidak terlalu terbebani.
***
Dwi
Terlihat Dwi sedang asyik memainkan salah satu game terkenal
di komputernya. Waktu menunjukan jam 21:00 tepat. Tiba-tiba muncul beberapa
kata berwarna merah di layar komputer Dwi yang isinya “aku tidak takut padamu,
jangan sombong”. Ia lalu menghilangkan kata-kata itu dengan mudah dan melanjutkan
bermain game nya. “Terror seperti itu? Terlalu biasa buatku” katanya sambil
sedikit tertawa sambil terus bermain game. Tiba tiba listrik mati begitu saja.
Kamar menjadi gelap. Layar handphone Dwi menyala merah dan ada beberapa kata di
situ. “Bagaimana? Jangan macam-macam padaku, aku memang lemah tetapi aku tidak
bodoh!”



0 komentar:
Posting Komentar